Bersabarlah

Pengertian dari tawakal adalah berserah diri terhadap segala ketentuan yang telah digariskan oleh Tuhan. Sikap tawakal selalu dibarengi dengan keikhlasan dan ketulusan yang terpatri didalam hati sanubari, dibarengi sikap tulus dan ikhlas niscaya manusia tidak akan mampu untuk menghadapi seala macam ujian dan cobaan dari-NYA sebab sejauh apapun atau seberat apapun manusia berupaya dan berusaha jikalau Tuhan tidak mengehendaki maka akan sia-sia jualah segala yang telah diperbuatnya.
Manusia yang beriman tentu sangat mengerti akan pentingnya menanamkan sikap sabar dan tawakal dalam menapaki terjal dan kerasnya jalan yang harus dilalui untuk menuju kedekatan dengan-NYA. Ibarat jembatan yang membentang melewati jurang maka tanpa adanya sikap sabar dan tawakal akan jatuhlah dia kedalam jurang kenistaan. Tuhan tidak menyukai sikap putus asa manusia karena cenderung hanya akan membuat malas dan lalai apalagi kalau sampai menjurus kedalam hal-hal yang sangat dilaknat Tuhan semisal upaya bunuh diri.
Salah satu cara untuk menumbuhkan sikap tawakal adalah dengan cara membuka-buka lagi dan mencari arti dan makna hidup kita di dunia yang fana ini, semuanya terangkum dalam penjabaran tentang hakikat hidup yang mempunyai pengertian bahwa hidup adalah kumpulan dari senyawa dzat-dzat Tuhan, yang terekam pula dalam firman-NYA yang bermakna bahwa Tuhan melingkupi segala sesuatunya, serta diperkuat lagi dengan firman-NYA yang bermakna bahwa Tuhan tidak menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepada-NYA, tentunya diperlukan pemahaman dan kedewasaan dalam berpikir untuk mencermati dan meyakini firman-firman tersebut agar tidak salah dalam menafsirkannya.
Jikalau firman-firman tadi sudah difahami oleh akal pikiran dan diyakini didalam hati niscaya manusia tidak akan menjadikan dunia ini sebagai tujuan akhir melainkan hanya sebagai sarana dan alat untuk mencapai tujuan akhir yang Maha penting yaitu kemulyaan abadi yang berarti bersama-sama Tuhan di alam Lahut kelak di kemudian hari.
Tuhan akan selalu menguji dan menguji terus umat-NYA untuk mengetahui hamba-hamba-NYA yang benar-benar beriman kepada-NYA, maka hendaklah kita sebagai orang mukmin bersiap diri menerima segala badai ujian dan cobaan yang siap menghujam dari segala arah. Tentunya dengan berbekal ilmu sabar dan tawakal kita dapat melalui badai tersebut dengan memegang tali keimanan yang kokoh nan kuat. Kepasrahan diri total untuk menerima apapun konsekuensinya baik berupa kesenangan ataupun kesusahan selama Tuhan ridlo terhadapnya maka itulah yang dinamakan dengan tawakal.
Tentunya untuk menempuh sikap tawakal ini terlebih dahulu kita harus menenamkan sikap legowo atau lapang dada dan berbesar hati serta pantang putus asa. Dan pentingnya mengendalikan hawa nafsu juga merupakan aspek penting dalam pencapaian sikap tawakal ini, terutama nafsu duniawi yang selalu merongrong kita dari berbagai sudut kehidupan.
Manusia dikarunia akal pikiran dan hati untuk senantiasa mengolah, memahami dan menciptakan sesuatu guna mencapai pemenuhan kebutuhan hidupnya akan tetapi Tuhan juga telah menurunkan rambu-rambu yang harus dipatuhi agar manusia tidak terjerumus dalam keserakahan dan ketamakan, bagi orang beriman rambu-rambu tersebut dijadikan suatu perintah dan larangan yang hukumnya wajib untuk dilaksananakan dalam berbagai segi kehidupan, Baru kemudian setelah memahami secara mendalam tentang perintah dan larangan ini maka pola pikir dan pemahaman orang beriman tadi semakin kuat mengakar dan menjalar ke seluruh anggota tubuhnya sehingga mereka akan melihat, mendengar, berbicara dan melangkahkan kaki dengan didasari keyakinan bahwa Tuhanlah yang berada di sekelilingnya.
Manusia pada dasarnya tidak memiliki apapun baik materi, ilmu ataupun pangkat, jabatan dan sebagainya, semuanya hanyalah pinjaman Tuhan semata dan ketika Tuhan mau mengambilnya kembali tentu kita tidak mempunyai kuasa untuk mempertahankannnya.
Pola pikir seperti ini seharusnya dibangkitkan agar manusia tidak diperbudak oleh dunia karena semakin kita mengejar dunia maka akan semakin jauh dunia meninggalkannya, dalam kata lain manusia tidak akan pernah lepas dari rasa puas dan selalu ingin,ingin dan terus ingin.
Titik tolak sikap tawakal disini bisa ditemukan ketika manusia tidak memandang penting segala permasalahan atau apapun yang berkaitan dengan dunia melainkan hanya Tuhan semata tujuannya, serta meneguhkan pendirian bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini hanyalah ujian semata dari Tuhan maka sepatutnyalah kita berserah diri kepada-NYA dan ikhlas menerima apapun pemberian-NYA.GBU All the best ^.^

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s